Skip to main content

Day 17 #30DayWritingChallenge

The power of uttering 'astaghfirullah' for me!


Aku pernah merasa seperti terikat. Rasanya sesak, aku ga bisa berkata-kata bahkan untuk menangis pun aku sudah kehabisan air mata. Aku bekerja keras sendirian, tanpa ada yang melihat dan memuja. Hidupku terasa sepi dan tidak ada sedikit pun kenikmatan yang kurasakan. Aku selalu merasa haus dan kekurangan. Aku acapkali menghindari kerumunan dan berbalik arah saat melihat peluang muncul di tanjakan. Aku begitu, di waktu yang cukup lama.

Hingga pada akhirnya, ada satu suara yang terdenger tenang, bernada indah dan fasih dengan aksen inggrisnya yang menurutku keren. Karenanya aku jadi menuju arah yang berlawanan. Aku di tempat itu awalnya juga karena diundang, tapi aku justru menghadiri undangan yang lain. Aku mengikuti suara itu hingga menemukan sumbernya "Oh, ternyata dia orangnya." Lelaki yang usianya lebih muda setahun dariku, belum kuliah, tapi lugas dengan ilmunya yang melibihi seorang akademis.

Dia sedang berbicara tentang "The Power of Istigfar" bukan sekadar diucapkan tapi sembari menarik dan menghembuskan nafas, menutup pandangan awal ke depan dan membukanya dalam hitungan ke sepuluh pasca beristigfar berkali-kali. Aku tanpa maksud mengikuti, kian menjadi tenang. Kemudian duduk di kursi belakang dengan masker yang menutupi separuh wajahku. 

Ternyata dia adalah MC di acara yang mengundangku. Aku diizinkan duduk paling depan, hanya selisih satu kursi dengannya. Ketika giliranku presentasi, ia menjadi penyimak yang baik tanpa berhenti menyoroti presentasiku. Hingga ketika aku kembali duduk, ia langsung membuka diskusi denganku dan semua pernyataannya mengarah pada kehebatan yang telah aku lakukan. Dia mengagumi itu semua dan bersyukur ada wanita penggerak sepertiku. Padahal tadinya, aku berfikir itu tidak akan dianggap hebat olehnya.

Lanjut, di akhir acara aku justru di panggil oleh pendiri yayasan yang mengundangku. Ia justru berbicara tentang sosok lelaki tadi bahwa dia seorang hafidz, lulusan *** ini dan itu. Aku spontan ternganga membayangkannya. Intinya, dia itu eksklusif.

Diskusi kami berlanjut di media online karena rasa penasaranku bagaimana caranya membangun diri seperti itu. Setidaknya aku mau punya sifat penyabar dan ikhlas tanpa terlihat kehilangan seperti itu. Katanya, "Istigfar, terus ucapkan".  

Gerbang istigfar yang membawaku mulai paham bahwa "it's okay to not be okay. Gapapa kali ini gagal, kita akan coba lagi"

"Terima amarahnya, mungkin dia hanya perlu didengar."

"Alhamdulillah, dengan banyaknya tugas, kita kerjakan perlahan atau ngebut dan dihadiahi tiket nonton dan makan makanan favorit"

"Ingin ini dan itu atau setidaknya dapat pekerjaan seperti dia.... Sabar, mungkin sedikit lagi giliranmu. Tunggulah sambil menikmati kerja kerasmu"

Kata-kata "istigfar" memang sudah lama kuketahui. Tapi, arti ketika memahami fungsi dan caranya bekerja, aku merasa bahwa aku bahagia karena mampu mengendalikan ego. Bersikap tenang dengan mata yang meyakinkan. 

Comments

Popular posts from this blog

Day 19 #30DayWritingChallenge

Tips vocation goes to Malaysia Ada 2 tips vocation dari aku buat teman-teman sekalian. Please, pilih sesuai dengan kepribadian teman-teman ya. Pertama, group vocation yaitu teman-teman ikut program liburan ke luar negeri bareng delegasi-delegasi lainnya. Faedahnya, bagi teman-teman yang perdana ke LN itu rencananya jelas, terarah dan aman pastinya. Jadi, temen-temen cukup ikuti aja alurnya bareng sie tour guide. Ada 3 rekomendasi program dari aku berdasarkan pengalaman pribadi. Pertama, bisa pilih program Asia Youth International Model United Nations yaitu program simulasi sidang PBB. Kedua, program study tour *jelasnya baca tulisanku di #Day8. Terakhir, bisa ikut travel agent tujuan LN. Searching aja di instagram banyak kok. Kalo di awal, aku tuh milih program AYIMUN selama 3 harian stayed di Putrajaya. Kemudian aku extended ke Penang secara mandiri agar lebih menchallenge diri. Pastiin kamu tahu mau kemana dan akan bertemu siapa ya. Waktu itu, kebetulan aku punya teman masa kecil dar...

Day 26 #30DayWritingChallenge

How am I able to handle my stress? As a Muslim all I  have to do is pray, a minute, j ust take my time, t he clock is ticking, so pray. Itu pertama kali yang aku lakuin. Then, aku nyanyi sekuat-kuatnya. Even my voice is worse, IDK. Aku gemar sekali nyanyi sekuat-kuatnya tanpa memedulikan keindahan suara. Setelah puas dan lelah bernyanyi aku akan tidur tanpa sadar dan stressku menghilang. Sesederhana itu memang. Tapi sebelum menemukan cara ini, tentu aku mencoba banyak hal. Maka, kalian pun harus begitu. Cobalah banyak hal yang masih terkesan positif yang bisa membantumu keluar dari nuansa stress. Sebenarnya, stress itu ada celahnya kok. Ada berbagai pintu menuju jalan keluar. Kita hanya perlu menemukannya. Jika aku bisa, begitu pun kamu. Lantas, ketika sudah keluar apakah penyebab dari stress akan langsung punah? Memang sih belum tentu, tapi setidaknya perasaan kita jadi jauh lebih baik di kala hendak bertindak menyelesaikannya.  Ini beberapa playtlist lagu yang sering kubawa ...

Day 25 #30DayWritingChallenge

So, do I have a K-Pop bias? Yes! Aku juga punya crush yang landed di dunia K-Pop. Berhubung aku introvert yang jarang keluar rumah, salah satu hiburanku di saat bosan adalah watching my favor K-Pop which is Jungkok (BTS Member). Aku memang tidak terlalu mengenal Jungkok secara pribadi, ya iyalah ga mungkin juga ya! Lebih tepatnya aku tidak type of fans yang mencari seluruh info tentang idolnya. Seperti kapan dia lahir, apa kesukaannya, masa lalunya dan lainnya. Di sini aku pure mengagumi karya-karya dan beragaman talentanya Jungkok.  Terserah deh mau dibilang bias atau bukan, intinya aku juga sesekali ngelihat idol Jungkok. Kenapa? Apa karena tampangnya yang ganteng? Terus, seolah aku berharap punya future husband seperti itu? Sorry to say pemikiran seperti ini kumohon tolong dicut. As I said, aku kagum dengan karya-karyanya dan beragam talentanya. Pertama, Jungkok ini member BTS yang paling muda tetapi paling bertalenta menurutku. Dia bisa hampir semua hal. Nyanyi bisa, melukis bi...