The power of uttering 'astaghfirullah' for me!
Aku pernah merasa seperti terikat. Rasanya sesak, aku ga bisa berkata-kata bahkan untuk menangis pun aku sudah kehabisan air mata. Aku bekerja keras sendirian, tanpa ada yang melihat dan memuja. Hidupku terasa sepi dan tidak ada sedikit pun kenikmatan yang kurasakan. Aku selalu merasa haus dan kekurangan. Aku acapkali menghindari kerumunan dan berbalik arah saat melihat peluang muncul di tanjakan. Aku begitu, di waktu yang cukup lama.
Hingga pada akhirnya, ada satu suara yang terdenger tenang, bernada indah dan fasih dengan aksen inggrisnya yang menurutku keren. Karenanya aku jadi menuju arah yang berlawanan. Aku di tempat itu awalnya juga karena diundang, tapi aku justru menghadiri undangan yang lain. Aku mengikuti suara itu hingga menemukan sumbernya "Oh, ternyata dia orangnya." Lelaki yang usianya lebih muda setahun dariku, belum kuliah, tapi lugas dengan ilmunya yang melibihi seorang akademis.
Dia sedang berbicara tentang "The Power of Istigfar" bukan sekadar diucapkan tapi sembari menarik dan menghembuskan nafas, menutup pandangan awal ke depan dan membukanya dalam hitungan ke sepuluh pasca beristigfar berkali-kali. Aku tanpa maksud mengikuti, kian menjadi tenang. Kemudian duduk di kursi belakang dengan masker yang menutupi separuh wajahku.
Ternyata dia adalah MC di acara yang mengundangku. Aku diizinkan duduk paling depan, hanya selisih satu kursi dengannya. Ketika giliranku presentasi, ia menjadi penyimak yang baik tanpa berhenti menyoroti presentasiku. Hingga ketika aku kembali duduk, ia langsung membuka diskusi denganku dan semua pernyataannya mengarah pada kehebatan yang telah aku lakukan. Dia mengagumi itu semua dan bersyukur ada wanita penggerak sepertiku. Padahal tadinya, aku berfikir itu tidak akan dianggap hebat olehnya.
Lanjut, di akhir acara aku justru di panggil oleh pendiri yayasan yang mengundangku. Ia justru berbicara tentang sosok lelaki tadi bahwa dia seorang hafidz, lulusan *** ini dan itu. Aku spontan ternganga membayangkannya. Intinya, dia itu eksklusif.
Diskusi kami berlanjut di media online karena rasa penasaranku bagaimana caranya membangun diri seperti itu. Setidaknya aku mau punya sifat penyabar dan ikhlas tanpa terlihat kehilangan seperti itu. Katanya, "Istigfar, terus ucapkan".
Gerbang istigfar yang membawaku mulai paham bahwa "it's okay to not be okay. Gapapa kali ini gagal, kita akan coba lagi"
"Terima amarahnya, mungkin dia hanya perlu didengar."
"Alhamdulillah, dengan banyaknya tugas, kita kerjakan perlahan atau ngebut dan dihadiahi tiket nonton dan makan makanan favorit"
"Ingin ini dan itu atau setidaknya dapat pekerjaan seperti dia.... Sabar, mungkin sedikit lagi giliranmu. Tunggulah sambil menikmati kerja kerasmu"
Kata-kata "istigfar" memang sudah lama kuketahui. Tapi, arti ketika memahami fungsi dan caranya bekerja, aku merasa bahwa aku bahagia karena mampu mengendalikan ego. Bersikap tenang dengan mata yang meyakinkan.

Comments
Post a Comment