How I could be confident enough to go abroad for the first time?
Dulu tuh aku bener-bener ambis banget! Bahkan sekarang bisa geleng-geleng kepala saat ingat betapa ambisnya diriku masa itu. Tujuanku sederhana, pengen punya pengalaman keluar negeri sendiri dan berdiskusi langsung dengan bule. Sesederhana itu sih, tapi ternyata pastinya tidak semudah itu. Terus, kenapa aku bisa sepercaya diri itu?
Singkatnya, karena aku berusaha untuk belajar dan terus belajar dari orang-orang keren di dunia ini. Harapannya, apa yang kupelajari turut membuat diriku terlihat keren. Kenapa aku ingin terlihat keren? Apa definisi keren bagiku?
Pertama, mari kita luruskan dulu definisi keren menurutku adalah orang-orang yang punya ilmu, membuat komunitas dengan terus bergerak dan menggerakkan orang lain. Orang yang giat berbagi dan terus berbagi. Orang yang acapkali menginspirasi kaum-kaum penerus bangsa. Bagiku itu keren, banget!
Kenapa aku ingin begitu? Menurutku, perempuan juga berhak andil dalam hal ini. Perempuan juga bisa berkapasistas dan berkompeten untuk unjuk diri dalam membuat perubahan. No way tentang perbedaan gender. Aku selalu merasa bisa dan memiliki ruang dengan niat ketulusan.
Bukan hanya di DL, komunitas LN juga 100x lebih serius dalam menjalani program-program keberlanjutan untuk dunia yang lebih baik lagi. Kita mengenalnya dengan istilah Sustainable Development Goals. Tujuan ke-empat adalah fokus utamaku yaitu Quality Education. Tujuannya menbantu negara untuk meningkatkan kualitas pendidikan. As we know di Indonesia pendidikan kita masih terbilang rendah.
Indonesia adalah negara dengan lebih dari 221 ribu sekolah, 45
Juta murid, 2,7 juta guru, tetapi kita juga negara dengan peforma paling
rendah. Menurut PISA (Programme for International Student Assessment)
Indonesia menempati ranking 62 dari 70 negara. Kita sangat amat
ketinggalan. Riset terbaru dari Professor Lant Pritchett seorang professor
dari Harvard Kennedy School meneliti khusus anak-anak di Jakarta usia
15 tahun dan ternyata anak-anak di Jakarta itu ketinggalan 128 tahun
dibandingkan dengan negara-negara lain.
Penyebabnya adalah kualitas
pendidikan. Kita sangat ketinggalan terutama di bidang math, science dan
reading kita salah satu yang paling bawah dan selalu begitu setiap
tahunnya.
Selain itu untuk mengubah kualitas pendidikan kita menjadi lebih
baik kita perlu mengurangi intervensi pemerintah di bidang pendidikan
sebab pendidikan bukanlah sebuah barang yang dapat diregulasi
menggunakan sistem ‘command and control.’ Pendidikan tidak boleh
tersentralisasi dalam suatu titik seperti "diatur oleh pemerintah".
Apabila
kita ingin meningkatkan kualitas pendidikan dari suatu negara, peran
pemerintah hanyalah sebagai climate control yang bertugas mengawasi
iklim pendidikan untuk berjalan dengan baik dibandingkan mengatur dan
mengarahkan bagaimana pendidikan tersebut harus berjalan secara
tersentralisasi oleh mereka saja.
Intervensi pemerintah di bidang pemerintah pun sering sekali
membuat persoalan dibandingkan menciptakan manfaat. Kita dapat
melihat ada perbedaan besar di antara sistem pendidikan yang
menggunakan model ‘command and control’ yang terjadi dibeberapa
sistem pendidikan. Pemerintah pusat menentukan atau pemerintah daerah
menentukan seakan-akan mengetahui segalanya dan mereka akan memberi
2
tahu kita apa yang seharusnya dilakukan.
Masalahnya adalah pendidikan
tidak berlangsung dalam ruang anggota DPR, pendidikan berlangsung di
ruang kelas dan sekolah dan mereka yang menjalani pendidikan formal
adalah guru dan murid dan jika kita menghilangkan diskresi tersebut
pendidikan tidak dapat berfungsi dengan baik. Kita harus mengembalikan
pendidikan ke masyarakat.
Lalu bagaimana peran kita untuk membantu orang-orang yang
ketinggalan akses pendidikan yaitu pelayanan informasi, aksestabilitas dan
lainnya. Jawabannya adalah dengan aktif kegiatan di forum-forum gerakan perubahan mulai dari level daerah, nasional hingga internasional.
Aku pribadi mendapati banyak pelajaran kemanusiaan hingga akhirnya berani menciptakan platform IAC (Indonesia Agent of Change) sebagai komunitas pertama yang kudirikan. Komunitas ini berbasis
education server untuk mereka adalah orang-orang tidak mampu dan
tertinggal. IAC ini adalah sebuah alternatif yang lebih baik daripada
platform e-learning yang hanya berfokus pada kompetensi siswa. Hingga kini belum ada satu pun platform
pelayanan pendidikan yang melayani keluhan, kekhawatiran hingga
ketertinggalan siswa. Sistem IAC ini lebih baik untuk membantu orang-orang yang tertinggal akses pendidikan, dikarenakan pengimplementasian IAC lebih tepat sasaran dibandingkan media belajar yang memang untuk
mengejar 128 tahun ketertinggalan kita di dunia pendidikan tidak semudah
membalikkan telapak tangan.
Memang banyak lagi faktor-faktor lain yang
perlu diperbaiki dari dunia pendidikan di Indonesia, tetapi ada satu hal
yang semua orang harus tahu yakni the "more you know, the more you
own, because learning is earning."
.png)
Comments
Post a Comment