Skip to main content

Day 21 #30DayWritingChallenge

How I could be confident enough to go abroad for the first time?


Dulu tuh aku bener-bener ambis banget! Bahkan sekarang bisa geleng-geleng kepala saat ingat betapa ambisnya diriku masa itu. Tujuanku sederhana, pengen punya pengalaman keluar negeri sendiri dan berdiskusi langsung dengan bule. Sesederhana itu sih, tapi ternyata pastinya tidak semudah itu. Terus, kenapa aku bisa sepercaya diri itu? 

Singkatnya, karena aku berusaha untuk belajar dan terus belajar dari orang-orang keren di dunia ini. Harapannya, apa yang kupelajari turut membuat diriku terlihat keren. Kenapa aku ingin terlihat keren? Apa definisi keren bagiku?

Pertama, mari kita luruskan dulu definisi keren menurutku adalah orang-orang yang punya ilmu, membuat komunitas dengan terus bergerak dan menggerakkan orang lain. Orang yang giat berbagi dan terus berbagi. Orang yang acapkali menginspirasi kaum-kaum penerus bangsa. Bagiku itu keren, banget!

Kenapa aku ingin begitu? Menurutku, perempuan juga berhak andil dalam hal ini. Perempuan juga bisa berkapasistas dan berkompeten untuk unjuk diri dalam membuat perubahan. No way tentang perbedaan gender. Aku selalu merasa bisa dan memiliki ruang dengan niat ketulusan. 

Bukan hanya di DL, komunitas LN juga 100x lebih serius dalam menjalani program-program keberlanjutan untuk dunia yang lebih baik lagi. Kita mengenalnya dengan istilah Sustainable Development Goals. Tujuan ke-empat adalah fokus utamaku yaitu Quality Education. Tujuannya menbantu negara untuk meningkatkan kualitas pendidikan. As we know di Indonesia pendidikan kita masih terbilang rendah.

Indonesia adalah negara dengan lebih dari 221 ribu sekolah, 45 Juta murid, 2,7 juta guru, tetapi kita juga negara dengan peforma paling rendah. Menurut PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia menempati ranking 62 dari 70 negara. Kita sangat amat ketinggalan. Riset terbaru dari Professor Lant Pritchett seorang professor dari Harvard Kennedy School meneliti khusus anak-anak di Jakarta usia 15 tahun dan ternyata anak-anak di Jakarta itu ketinggalan 128 tahun dibandingkan dengan negara-negara lain. 

Penyebabnya adalah kualitas pendidikan. Kita sangat ketinggalan terutama di bidang math, science dan reading kita salah satu yang paling bawah dan selalu begitu setiap tahunnya. Selain itu untuk mengubah kualitas pendidikan kita menjadi lebih baik kita perlu mengurangi intervensi pemerintah di bidang pendidikan sebab pendidikan bukanlah sebuah barang yang dapat diregulasi menggunakan sistem ‘command and control.’ Pendidikan tidak boleh tersentralisasi dalam suatu titik seperti "diatur oleh pemerintah". 

Apabila kita ingin meningkatkan kualitas pendidikan dari suatu negara, peran pemerintah hanyalah sebagai climate control yang bertugas mengawasi iklim pendidikan untuk berjalan dengan baik dibandingkan mengatur dan mengarahkan bagaimana pendidikan tersebut harus berjalan secara tersentralisasi oleh mereka saja. Intervensi pemerintah di bidang pemerintah pun sering sekali membuat persoalan dibandingkan menciptakan manfaat. Kita dapat melihat ada perbedaan besar di antara sistem pendidikan yang menggunakan model ‘command and control’ yang terjadi dibeberapa sistem pendidikan. Pemerintah pusat menentukan atau pemerintah daerah menentukan seakan-akan mengetahui segalanya dan mereka akan memberi 2 tahu kita apa yang seharusnya dilakukan.

Masalahnya adalah pendidikan tidak berlangsung dalam ruang anggota DPR, pendidikan berlangsung di ruang kelas dan sekolah dan mereka yang menjalani pendidikan formal adalah guru dan murid dan jika kita menghilangkan diskresi tersebut pendidikan tidak dapat berfungsi dengan baik. Kita harus mengembalikan pendidikan ke masyarakat. Lalu bagaimana peran kita untuk membantu orang-orang yang ketinggalan akses pendidikan yaitu pelayanan informasi, aksestabilitas dan lainnya. Jawabannya adalah dengan aktif kegiatan di forum-forum gerakan perubahan mulai dari level daerah, nasional hingga internasional. 

Aku pribadi mendapati banyak pelajaran kemanusiaan hingga akhirnya berani menciptakan platform IAC (Indonesia Agent of Change) sebagai komunitas pertama yang kudirikan. Komunitas ini berbasis education server untuk mereka adalah orang-orang tidak mampu dan tertinggal. IAC ini adalah sebuah alternatif yang lebih baik daripada platform e-learning yang hanya berfokus pada kompetensi siswa. Hingga kini belum ada satu pun platform pelayanan pendidikan yang melayani keluhan, kekhawatiran hingga ketertinggalan siswa. Sistem IAC ini lebih baik untuk membantu orang-orang yang tertinggal akses pendidikan, dikarenakan pengimplementasian IAC lebih tepat sasaran dibandingkan media belajar yang memang untuk mengejar 128 tahun ketertinggalan kita di dunia pendidikan tidak semudah membalikkan telapak tangan. 

Memang banyak lagi faktor-faktor lain yang perlu diperbaiki dari dunia pendidikan di Indonesia, tetapi ada satu hal yang semua orang harus tahu yakni the "more you know, the more you own, because learning is earning."

Comments

Popular posts from this blog

Day 19 #30DayWritingChallenge

Tips vocation goes to Malaysia Ada 2 tips vocation dari aku buat teman-teman sekalian. Please, pilih sesuai dengan kepribadian teman-teman ya. Pertama, group vocation yaitu teman-teman ikut program liburan ke luar negeri bareng delegasi-delegasi lainnya. Faedahnya, bagi teman-teman yang perdana ke LN itu rencananya jelas, terarah dan aman pastinya. Jadi, temen-temen cukup ikuti aja alurnya bareng sie tour guide. Ada 3 rekomendasi program dari aku berdasarkan pengalaman pribadi. Pertama, bisa pilih program Asia Youth International Model United Nations yaitu program simulasi sidang PBB. Kedua, program study tour *jelasnya baca tulisanku di #Day8. Terakhir, bisa ikut travel agent tujuan LN. Searching aja di instagram banyak kok. Kalo di awal, aku tuh milih program AYIMUN selama 3 harian stayed di Putrajaya. Kemudian aku extended ke Penang secara mandiri agar lebih menchallenge diri. Pastiin kamu tahu mau kemana dan akan bertemu siapa ya. Waktu itu, kebetulan aku punya teman masa kecil dar...

Day 26 #30DayWritingChallenge

How am I able to handle my stress? As a Muslim all I  have to do is pray, a minute, j ust take my time, t he clock is ticking, so pray. Itu pertama kali yang aku lakuin. Then, aku nyanyi sekuat-kuatnya. Even my voice is worse, IDK. Aku gemar sekali nyanyi sekuat-kuatnya tanpa memedulikan keindahan suara. Setelah puas dan lelah bernyanyi aku akan tidur tanpa sadar dan stressku menghilang. Sesederhana itu memang. Tapi sebelum menemukan cara ini, tentu aku mencoba banyak hal. Maka, kalian pun harus begitu. Cobalah banyak hal yang masih terkesan positif yang bisa membantumu keluar dari nuansa stress. Sebenarnya, stress itu ada celahnya kok. Ada berbagai pintu menuju jalan keluar. Kita hanya perlu menemukannya. Jika aku bisa, begitu pun kamu. Lantas, ketika sudah keluar apakah penyebab dari stress akan langsung punah? Memang sih belum tentu, tapi setidaknya perasaan kita jadi jauh lebih baik di kala hendak bertindak menyelesaikannya.  Ini beberapa playtlist lagu yang sering kubawa ...

Day 25 #30DayWritingChallenge

So, do I have a K-Pop bias? Yes! Aku juga punya crush yang landed di dunia K-Pop. Berhubung aku introvert yang jarang keluar rumah, salah satu hiburanku di saat bosan adalah watching my favor K-Pop which is Jungkok (BTS Member). Aku memang tidak terlalu mengenal Jungkok secara pribadi, ya iyalah ga mungkin juga ya! Lebih tepatnya aku tidak type of fans yang mencari seluruh info tentang idolnya. Seperti kapan dia lahir, apa kesukaannya, masa lalunya dan lainnya. Di sini aku pure mengagumi karya-karya dan beragaman talentanya Jungkok.  Terserah deh mau dibilang bias atau bukan, intinya aku juga sesekali ngelihat idol Jungkok. Kenapa? Apa karena tampangnya yang ganteng? Terus, seolah aku berharap punya future husband seperti itu? Sorry to say pemikiran seperti ini kumohon tolong dicut. As I said, aku kagum dengan karya-karyanya dan beragam talentanya. Pertama, Jungkok ini member BTS yang paling muda tetapi paling bertalenta menurutku. Dia bisa hampir semua hal. Nyanyi bisa, melukis bi...