How did I build a community?
Mendirikan komunitas itu sebenarnya mudah jika kita memang menyukai pergerakannya. Aku pribadi, sejauh ini ada belasan komunitas yang kudirikan. Unfortunately, tidak semuanya berjalan sesuai rencana atau katakanlah gagal. Membangun komunitas juga bisa menjadi sangat sulit karena sistem komunitas yang multi people kita pun harus menyelaraskan satu tujuan di atas banyaknya pemikiran. Jika tidak bisa diselaraskan, itulah alasan mangkatnya sebuah komunitas.
Komunitas pertama yang kudirikan adalah Indonesia Agent of Change (@indonesiaAgentofChange) disusul dengan Exclusive English, Suara Indonesia, Yayayasan Akselerasi Prestasi Pelajar Indonesia, YES Olympic, YES Bimbel, YES Update, YES Toko, dan YES Byology. Cukup banyak tetapi rutinitas aktivitasnya cenderung berbeda-beda.
Komunitas yang aku dirikan umumnya berfokus pada pembangunan berkelanjutan/Sustainable Development Goals no. 4 yaitu Quality Education. Hampir semua komunitas yang kudirikan berpusat pada pendidikan seperti penyebaran info beasiswa, seminar pendidikan, event-event akademik dan non akademik tingkat nasional hingga mentoring dan juga coaching.
Aku akan bercerita secara spesifik di balik sejarah aku mendirikan komunitas pertamaku which is Indonesia Agent of Change atau yang akan terus kita sebut dengan akronim IAC. IAC adalah komunitas pertamaku yang kudirikan saat aku kuliah di semester 5. Atas inisiatif dan kesadaran bahwa di daerahku perlu adanya wadah pembimbing para calon mahasiswa untuk lebih melihat jendela dunia versi pendidikan seperti motivasi/semangat untuk melanjutkan pendidikan, cara menuju kampus mimpian, kuliah gratis hingga persiapan mental.
Sebelum benar-benar membangun, aku pun aktif mengikuti UKM/komunitas dalam dan luar kampus. Seyogyanya, pada saat itulah aku belajar terkait apa itu komunitas? Bagaimana dengan strukturisasinya, manajemennya hingga pelaksanaannya?. Aku sudah aktif berkomunitas sejak semester 1 hingga semester 5 sebelum pada akhirnya aku memutuskan keluar dan membuat komunitas sendiri. Setelah belajar banyak tentang komunitas aku langsung mencari orang-orang untuk bergabunng dengan komunitasku. Mulanya, aku mengajak orang-orang terdekat dengan visi yang sama denganku.
Waktu itu aku ngajak Bang Sandro/Pendamping Beasiswa Etos ID dan Ryan/Rekan Relawan di daerahku. Kita langsung duduk bareng menetapkan rumusan-rumusan terkait visi dan misi komunitas hingga pembahasan project pertama. Setelah clear, aku lanjut membuka open recruitment keanggitaan. Alhamdulillah waktu itu terdiri dari 17 anggota tim. Setelah tim terbentuk, barulah kami bergerak. Proyoek IAC lebih tepatnya berfokus di tiga titik utama yaitu pendidikan, sosial dan budaya.
Tentang Indonesia Agent of Change
Indonesia Agent of
Change adalah organisasi non-profit
di bidang pendidikan yang ingin menciptakan perdamaian dunia dengan saling
membantu satu sama lain demi mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik.
Kami percaya pada dunia dimana setiap anak bisa membaca. Tujuan kami adalah
berinvestasi dalam pendidikan anak pada usia dini untuk memberdayakan generasi
berikutnya. Kami melakukannya dengan membuat program pendidikan, sosial dan
budaya, serta menyediakan sumber daya yang diperlukan di daerah-daerah
tertinggal. Indonesia Agent of Change merupakan upgrading dari komunitas Labura Agent of Change yang berdiri sejak
5 Januari 2020 dan mulai bergerak secara masif sejak 6 Juli 2020.
Visi
kami adalah menciptakan agen-agen perubahan di bidang pendidikan dan
sosial-budaya demi terciptanya sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas.
Sedangkan misi kami adal
*Mengangkat
kualitas pendidikan di Indonesia sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4.
*Merangkul
para pemuda untuk tumbuh dan berkembang.
*Membranding
budaya Indonesia dengan sistem salad
bowl.
Sederhananya,
visi dan misi kami adalah bergerak dan menggerakkan para agen perubahan menuju
kampus impian mereka, walaupun memiliki tingkat ekonomi yang terbatas. Sejak 18
Agustus hingga 4 September 2020, Indonesia Agent of Change resmi membuka sesi
perekrutan untuk mengisi posisi di berbagai fungsional yang tersedia. Adapun
fungsional-fungsional tersebut adalah Representative
of Indonesia Agent of Change (RIAC), Creative Producer Event (CPE), Creative
Writer Team (CWT), dan Creative
Editor Team (CET). Rekrutmen ini diikuti oleh 59 pendaftar dari seluruh
Indonesia dengan hasil akhir 23 member
terbaik yang diterima dan menjadi keluarga baru bagi Indonesia Agent of Change
2020.
Sebelum benar-benar ada, kami telah lebih
dahulu bergerak di bidang pendidikan pada tahun 2018, 2019, dan 2020 melalui
program Kuliah Tak Gentar sebagai kegiatan menginklusifkan pendidikan di
wilayah-wilayah terpencil, menyebar inspirasi, dan sharing informasi mengenai 48 beasiswa di Indonesia dan luar negeri.
Program Kuliah Tak Gentar merupakan
gerakan yang dilakukan secara gratis oleh mahasiswa-mahasiswa penerima beasiswa
di Indonesia untuk mengajak adik-adik siswa SMA kelas XII melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu bangku kuliah, dengan cara
menyampaikan informasi mengenai 48 beasiswa yang bisa didapatkan, baik dari dalam
maupun dari luar kampus. Kegiatan ini murni dilakukan sebagai kontribusi dari
agen-agen perubahan di Indonesia, bersifat non-politik dengan dana yang didapat
dari hasil negosiasi dan bantuan pihak Dompet Dhuafa Pendidikan.
Ini
adalah cerminan yang menunjukkan bahwa kami ingin membantu langkah adik-adik di
Indonesia menuju mimpi-mimpi mereka menjadi mahasiswa. Hasilnya, adik-adik yang
mengikuti program Kuliah Tak Gentar ini merasa sangat berterima kasih. Hal ini
dibuktikan dengan adanya over target
yang selalu kami dapat. Ini juga sebagai manifestasi dari semangat dan
keinginan mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi
sekaligus mendapat beasiswa sebagai bonusnya.
Di ranah pendidikan kami memiliki proyek "Kuliah Tak Gentar" adalah proyek lanjutan dari beasiswa Etos ID yaitu turun langsung ke lapangan guna memotivasi dan memberikan informasi 48 beasiswa bagi para calon mahasiswa di kota Labuhanbatu Utara. Mulanya, IAC ini adalah upgrading dari LAC (Labura Agent of Change). Tahun 2017-2020 kita masih berfikus di satu tempat, hingga pandemi menggema kita bertransisi menjadi IAC. Di proyek ini 4 tahun berturut-turut kita adakan dengan total ribuan peserta. IAC bahkan sempat diliput oleh media Tribun. (*Info selengkapnya, silakan check https://medan.tribunnews.com/2020/02/09/kuliah-tak-gentar-bongkar-rahasia-raih-48-beasiswa-ratusan-ikuti-dengan-antusias).
Di ranah sosial, kami memiliki proyek Youth Inspiration yaitu dengan menghadirkan sesi seminar/talkshow inspiratif untuk mengajak para pemuda terus berkreasi. Di sisi ini, kami turut melibatkan banyak pemuda inspiratif seperti Rafi Alfarezi (@rafialfarezi) yaitu seorang entrepenuer muda dan alumni Program Pertukaran Pelajar di Amerika. Ada juga Gadis (@dyscember) sebagai mahasiswa di Jerman hingga Dr. Ramlan (@ramlanpulungan) sebagai dokter muda dan alumni berprestasi USU.
Di ranah budaya, kami memiliki program Ramayana Jalanan (Rumah Budaya Anak-Anak Jalanan) yaitu mengajari anak-anak jalanan di Komunitas Peduli Anak, Kota Medan, Kecematan Medan Maimon. Kami mengajari mereka tarian batak, belajar bahasa asing hingga mengadakan pentas seni sederhana di depan Istana Maimon.
.png)
IAC juga sempat merilis buku pertamanya yang berjudul "Freedom Writers". Sekilas ceritaku
dan teman-teman relawan se-Indonesia ini adalah alasan mengapa project IBP/Inspiractional Book hadir dengan terbitan bukunya. Aku
tahu ada banyak sekali orang di luar sana hadir dengan cerita heronya
masing-maisng. Entah itu tentang perjuangan bertahan hidup, mencapai mimpi atau
menemukan jati diri. Faktanya, engga semua orang berani berjuang melewati luka
dan memutuskan untuk hidup bersama bekas luka. Percayalah, kita hebat dengan
hanya mampu bertahan, tumbuh dan berkembang menuju versi terbaik kita semua. Tapi
bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan mereka yang sedang butuh banyak
virus inspirasi untuk sekadar bertahan.
Indonesia Agent
of Change pun percaya bahwa menulis adalah salah satu cara terbaik berbagi
virus inspirasi yang tidak hanya mampu menggerakkan insan para pembaca. Justru,
mampu menghadirkan rasa duplikasi pada diri bahwa sebenarnya kita yang sedang
berjuang ini, tidak sedang kesakitan sendiri. Secepatnya, kita akan terbangun
bahwa memiliki rasa sakit dengan wajah yang babak beluk sekalipun, sebenarnya
tidak pernah menjadi masalah.
Kami pun berterima kasih atas hadirnya karya-karya
yang juga gemilang menginspirasi seperti kisah Freedom Writers versi barat dan
pidato BTS oleh Kim Namjoon “We have
learn to love ourselves. So, now I urge you to speak yourself. I like to ask
all of you what is your name? what excites you and makes your heart beat? Tell
me your story. I want to hear your voice, I want to hear your conviction. No
matter who you are, where you are from, your skin color, your gender identity,
just speak yourself. Find your name and find your voice by speaking yourself.”
Comments
Post a Comment