Skip to main content

Day 22 #30DayWritingChallenge

How did I build a community?


Mendirikan komunitas itu sebenarnya mudah jika kita memang menyukai pergerakannya. Aku pribadi, sejauh ini ada belasan komunitas yang kudirikan. Unfortunately, tidak semuanya berjalan sesuai rencana atau katakanlah gagal. Membangun komunitas juga bisa menjadi sangat sulit karena sistem komunitas yang multi people kita pun harus menyelaraskan satu tujuan di atas banyaknya pemikiran. Jika tidak bisa diselaraskan, itulah alasan mangkatnya sebuah komunitas. 

Komunitas pertama yang kudirikan adalah Indonesia Agent of Change (@indonesiaAgentofChange) disusul dengan Exclusive English, Suara Indonesia, Yayayasan Akselerasi Prestasi Pelajar Indonesia, YES Olympic, YES Bimbel, YES Update, YES Toko, dan YES Byology. Cukup banyak tetapi rutinitas aktivitasnya cenderung berbeda-beda. 

Komunitas yang aku dirikan umumnya berfokus pada pembangunan berkelanjutan/Sustainable Development Goals no. 4 yaitu Quality Education. Hampir semua komunitas yang kudirikan berpusat pada pendidikan seperti penyebaran info beasiswa, seminar pendidikan, event-event akademik dan non akademik tingkat nasional hingga mentoring dan juga coaching. 

Aku akan bercerita secara spesifik di balik sejarah aku mendirikan komunitas pertamaku which is Indonesia Agent of Change atau yang akan terus kita sebut dengan akronim IAC. IAC adalah komunitas pertamaku yang kudirikan saat aku kuliah di semester 5. Atas inisiatif dan kesadaran bahwa di daerahku perlu adanya wadah pembimbing para calon mahasiswa untuk lebih melihat jendela dunia versi pendidikan seperti motivasi/semangat untuk melanjutkan pendidikan, cara menuju kampus mimpian, kuliah gratis hingga persiapan mental. 

Sebelum benar-benar membangun, aku pun aktif mengikuti UKM/komunitas dalam dan luar kampus. Seyogyanya, pada saat itulah aku belajar terkait apa itu komunitas? Bagaimana dengan strukturisasinya, manajemennya hingga pelaksanaannya?. Aku sudah aktif berkomunitas sejak semester 1 hingga semester 5 sebelum pada akhirnya aku memutuskan keluar dan membuat komunitas sendiri. Setelah belajar banyak tentang komunitas aku langsung mencari orang-orang untuk bergabunng dengan komunitasku. Mulanya, aku mengajak orang-orang terdekat dengan visi yang sama denganku. 

Waktu itu aku ngajak Bang Sandro/Pendamping Beasiswa Etos ID dan Ryan/Rekan Relawan di daerahku. Kita langsung duduk bareng menetapkan rumusan-rumusan terkait visi dan misi komunitas hingga pembahasan project pertama. Setelah clear, aku lanjut membuka open recruitment keanggitaan. Alhamdulillah waktu itu terdiri dari 17 anggota tim. Setelah tim terbentuk, barulah kami bergerak. Proyoek IAC lebih tepatnya berfokus di tiga titik utama yaitu pendidikan, sosial dan budaya.

Tentang Indonesia Agent of Change

Indonesia Agent of Change adalah organisasi non-profit di bidang pendidikan yang ingin menciptakan perdamaian dunia dengan saling membantu satu sama lain demi mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik. Kami percaya pada dunia dimana setiap anak bisa membaca. Tujuan kami adalah berinvestasi dalam pendidikan anak pada usia dini untuk memberdayakan generasi berikutnya. Kami melakukannya dengan membuat program pendidikan, sosial dan budaya, serta menyediakan sumber daya yang diperlukan di daerah-daerah tertinggal. Indonesia Agent of Change merupakan upgrading dari komunitas Labura Agent of Change yang berdiri sejak 5 Januari 2020 dan mulai bergerak secara masif sejak 6 Juli 2020.

Visi kami adalah menciptakan agen-agen perubahan di bidang pendidikan dan sosial-budaya demi terciptanya sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Sedangkan misi kami adal
*Mengangkat kualitas pendidikan di Indonesia sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4.
*Merangkul para pemuda untuk tumbuh dan berkembang.
*Membranding  budaya Indonesia dengan sistem salad bowl.

Sederhananya, visi dan misi kami adalah bergerak dan menggerakkan para agen perubahan menuju kampus impian mereka, walaupun memiliki tingkat ekonomi yang terbatas. Sejak 18 Agustus hingga 4 September 2020, Indonesia Agent of Change resmi membuka sesi perekrutan untuk mengisi posisi di berbagai fungsional yang tersedia. Adapun fungsional-fungsional tersebut adalah Representative of Indonesia Agent of Change (RIAC), Creative Producer Event (CPE), Creative Writer Team (CWT), dan Creative Editor Team (CET). Rekrutmen ini diikuti oleh 59 pendaftar dari seluruh Indonesia dengan hasil akhir 23 member terbaik yang diterima dan menjadi keluarga baru bagi Indonesia Agent of Change 2020.

Sebelum benar-benar ada, kami telah lebih dahulu bergerak di bidang pendidikan pada tahun 2018, 2019, dan 2020 melalui program Kuliah Tak Gentar sebagai kegiatan menginklusifkan pendidikan di wilayah-wilayah terpencil, menyebar inspirasi, dan sharing informasi mengenai 48 beasiswa di Indonesia dan luar negeri.

Program Kuliah Tak Gentar merupakan gerakan yang dilakukan secara gratis oleh mahasiswa-mahasiswa penerima beasiswa di Indonesia untuk mengajak adik-adik siswa SMA kelas XII melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu bangku kuliah, dengan cara menyampaikan informasi mengenai 48 beasiswa yang bisa didapatkan, baik dari dalam maupun dari luar kampus. Kegiatan ini murni dilakukan sebagai kontribusi dari agen-agen perubahan di Indonesia, bersifat non-politik dengan dana yang didapat dari hasil negosiasi dan bantuan pihak Dompet Dhuafa Pendidikan.

Ini adalah cerminan yang menunjukkan bahwa kami ingin membantu langkah adik-adik di Indonesia menuju mimpi-mimpi mereka menjadi mahasiswa. Hasilnya, adik-adik yang mengikuti program Kuliah Tak Gentar ini merasa sangat berterima kasih. Hal ini dibuktikan dengan adanya over target yang selalu kami dapat. Ini juga sebagai manifestasi dari semangat dan keinginan mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi sekaligus mendapat beasiswa sebagai bonusnya. 


Di ranah pendidikan kami memiliki proyek "Kuliah Tak Gentar" adalah proyek lanjutan dari beasiswa Etos ID yaitu turun langsung ke lapangan guna memotivasi dan memberikan informasi 48 beasiswa bagi para calon mahasiswa di kota Labuhanbatu Utara. Mulanya, IAC ini adalah upgrading dari LAC (Labura Agent of Change). Tahun 2017-2020 kita masih berfikus di satu tempat, hingga pandemi menggema kita bertransisi menjadi IAC. Di proyek ini 4 tahun berturut-turut kita adakan dengan total ribuan peserta. IAC bahkan sempat diliput oleh media Tribun. (*Info selengkapnya, silakan check https://medan.tribunnews.com/2020/02/09/kuliah-tak-gentar-bongkar-rahasia-raih-48-beasiswa-ratusan-ikuti-dengan-antusias).

Di ranah sosial, kami memiliki proyek Youth Inspiration yaitu dengan menghadirkan sesi seminar/talkshow inspiratif untuk mengajak para pemuda terus berkreasi. Di sisi ini, kami turut melibatkan banyak pemuda inspiratif seperti Rafi Alfarezi (@rafialfarezi) yaitu seorang entrepenuer muda dan alumni Program Pertukaran Pelajar di Amerika. Ada juga Gadis (@dyscember) sebagai mahasiswa di Jerman hingga Dr. Ramlan (@ramlanpulungan) sebagai dokter muda dan alumni berprestasi USU.

Di ranah budaya, kami memiliki program Ramayana Jalanan (Rumah Budaya Anak-Anak Jalanan) yaitu mengajari anak-anak jalanan di Komunitas Peduli Anak, Kota Medan, Kecematan Medan Maimon. Kami mengajari mereka tarian batak, belajar bahasa asing hingga mengadakan pentas seni sederhana di depan Istana Maimon.


IAC juga sempat merilis buku pertamanya yang berjudul "Freedom Writers". Sekilas ceritaku dan teman-teman relawan se-Indonesia ini adalah alasan mengapa project IBP/Inspiractional Book hadir dengan terbitan bukunya. Aku tahu ada banyak sekali orang di luar sana hadir dengan cerita heronya masing-maisng. Entah itu tentang perjuangan bertahan hidup, mencapai mimpi atau menemukan jati diri. Faktanya, engga semua orang berani berjuang melewati luka dan memutuskan untuk hidup bersama bekas luka. Percayalah, kita hebat dengan hanya mampu bertahan, tumbuh dan berkembang menuju versi terbaik kita semua. Tapi bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan mereka yang sedang butuh banyak virus inspirasi untuk sekadar bertahan.

 

Indonesia Agent of Change pun percaya bahwa menulis adalah salah satu cara terbaik berbagi virus inspirasi yang tidak hanya mampu menggerakkan insan para pembaca. Justru, mampu menghadirkan rasa duplikasi pada diri bahwa sebenarnya kita yang sedang berjuang ini, tidak sedang kesakitan sendiri. Secepatnya, kita akan terbangun bahwa memiliki rasa sakit dengan wajah yang babak beluk sekalipun, sebenarnya tidak pernah menjadi masalah.

 

Kami pun berterima kasih atas hadirnya karya-karya yang juga gemilang menginspirasi seperti kisah Freedom Writers versi barat dan pidato BTS oleh Kim Namjoon “We have learn to love ourselves. So, now I urge you to speak yourself. I like to ask all of you what is your name? what excites you and makes your heart beat? Tell me your story. I want to hear your voice, I want to hear your conviction. No matter who you are, where you are from, your skin color, your gender identity, just speak yourself. Find your name and find your voice by speaking yourself.”

Comments

Popular posts from this blog

Day 19 #30DayWritingChallenge

Tips vocation goes to Malaysia Ada 2 tips vocation dari aku buat teman-teman sekalian. Please, pilih sesuai dengan kepribadian teman-teman ya. Pertama, group vocation yaitu teman-teman ikut program liburan ke luar negeri bareng delegasi-delegasi lainnya. Faedahnya, bagi teman-teman yang perdana ke LN itu rencananya jelas, terarah dan aman pastinya. Jadi, temen-temen cukup ikuti aja alurnya bareng sie tour guide. Ada 3 rekomendasi program dari aku berdasarkan pengalaman pribadi. Pertama, bisa pilih program Asia Youth International Model United Nations yaitu program simulasi sidang PBB. Kedua, program study tour *jelasnya baca tulisanku di #Day8. Terakhir, bisa ikut travel agent tujuan LN. Searching aja di instagram banyak kok. Kalo di awal, aku tuh milih program AYIMUN selama 3 harian stayed di Putrajaya. Kemudian aku extended ke Penang secara mandiri agar lebih menchallenge diri. Pastiin kamu tahu mau kemana dan akan bertemu siapa ya. Waktu itu, kebetulan aku punya teman masa kecil dar...

Day 26 #30DayWritingChallenge

How am I able to handle my stress? As a Muslim all I  have to do is pray, a minute, j ust take my time, t he clock is ticking, so pray. Itu pertama kali yang aku lakuin. Then, aku nyanyi sekuat-kuatnya. Even my voice is worse, IDK. Aku gemar sekali nyanyi sekuat-kuatnya tanpa memedulikan keindahan suara. Setelah puas dan lelah bernyanyi aku akan tidur tanpa sadar dan stressku menghilang. Sesederhana itu memang. Tapi sebelum menemukan cara ini, tentu aku mencoba banyak hal. Maka, kalian pun harus begitu. Cobalah banyak hal yang masih terkesan positif yang bisa membantumu keluar dari nuansa stress. Sebenarnya, stress itu ada celahnya kok. Ada berbagai pintu menuju jalan keluar. Kita hanya perlu menemukannya. Jika aku bisa, begitu pun kamu. Lantas, ketika sudah keluar apakah penyebab dari stress akan langsung punah? Memang sih belum tentu, tapi setidaknya perasaan kita jadi jauh lebih baik di kala hendak bertindak menyelesaikannya.  Ini beberapa playtlist lagu yang sering kubawa ...

Day 25 #30DayWritingChallenge

So, do I have a K-Pop bias? Yes! Aku juga punya crush yang landed di dunia K-Pop. Berhubung aku introvert yang jarang keluar rumah, salah satu hiburanku di saat bosan adalah watching my favor K-Pop which is Jungkok (BTS Member). Aku memang tidak terlalu mengenal Jungkok secara pribadi, ya iyalah ga mungkin juga ya! Lebih tepatnya aku tidak type of fans yang mencari seluruh info tentang idolnya. Seperti kapan dia lahir, apa kesukaannya, masa lalunya dan lainnya. Di sini aku pure mengagumi karya-karya dan beragaman talentanya Jungkok.  Terserah deh mau dibilang bias atau bukan, intinya aku juga sesekali ngelihat idol Jungkok. Kenapa? Apa karena tampangnya yang ganteng? Terus, seolah aku berharap punya future husband seperti itu? Sorry to say pemikiran seperti ini kumohon tolong dicut. As I said, aku kagum dengan karya-karyanya dan beragam talentanya. Pertama, Jungkok ini member BTS yang paling muda tetapi paling bertalenta menurutku. Dia bisa hampir semua hal. Nyanyi bisa, melukis bi...