How did I become a talented language ambassador?
Mostly, para finalis Duta Bahasa itu wajib banget hukumnya punya talenta dan biasanya di bidang seni. Misalnya, menari, menyanyi, pencak silat, berdongeng hingga bermonolog. Sejak dahulu aku memang sudah jatuh cinta di ranah permonolog-kan, sure aku memodifikasi monolog favoritku dengan versiku. Aku juga mengaransemen soundtracknya sendiri. Yapp, susah memang buat cari di internet soundtrack yang sesuai dengan monolog.
Kali itu, aku membawakan monolog dengan tema "Suara Yang Terbelakangkan". Singkatnya, aku bercerita tentang sebuah perjuangan mahasiswa untuk menuntut keadilannya. Ia hanya seorang mahasiswa dari kampung dengan ambisi besar, dan setibanya di kota (kampusnya) ia semakin tidak bisa diam melihat maraknya ketidak-adilan. Aku pun memainkan 3 peran sekaligus yaitu sebagai seorang mahasiswa yang berasal dari desa, iblis dan berakhir menjadi peri mungil.
Sebenarnya, cukup baanyak yang membawakan talent monolog waktu itu. Lalu kenapa aku yang terbaik? aku juga sempat bertanya kepada sang juri. Ia pun menjawab, "Ketika kamu bermonolog kamu terlihat tidak seperti bercerita, tetapi berperan. Itu part terbaik!." Benar saja, arti monolog yang sebenarnya bukan hanya bercerita soal perkara atau drama, tapi kita-lah yang berperan. Jika kita membawakan banyak peran, maka berubahlah sebanyak itu.
Totalitas, sekrusial itu. Mungkin karena aku mencintai monolog, aku memang berusaha bagaimana monolog yang kubawakan bisa membuat penonton terganga tanpa jeda? Bagimana membuat penonton ikut bergetar, merinding, menangis dan bahagia? Bagaimana penonton bisa merasakan setiap detik itu penting? So, please ensuring yourself to bring a talent that you loved on top.
Aku mulai di bagian awal yaitu merancang kerangka "what happening today?". Sesuatu yang sedang terjadi dan diketahui banyak orang adalah topik yang tepat untuk dibawakan karena umumnya mereka ingin tahu prediksi akhir atas kejadian itu. Kemudian, lanjut dengan riset terkait masalah-masalah atau fenomena-fenomena apa yang kian menguncangkan hati dan coba mencari apakah ada monolog/puisi yang kandungannya hampir mirip. Lanjut brainstorming, lalu tulis naskahmu. Menurutku jika kamu kesulitan menciptakan 100% karya orisinilmu, ga masalah kok untuk memadukannya dengan karya orang lain. But, tuliskan nama mereka juga.
Pasca penulisan naskah, lanjut ke musik/soundtrack. Jika kesulitan mendapatkan yang pas, again buat versimu sendiri. Karena kita yang paling tahu di menit ke berapa nada yang harus tinggi or rendah. Sederhana kok, kamu bisa ambil potongan-potongan nada favoritmu lalu gabungkan. Again, jangan lupa untuk mencantumkan nama penciptanya.
Next step, buat list properti/atribut apa yang akan mendukung penampilan monologmu. Usahakan setotalitas mungkin. Semisal kamu akan berperan jadi peri, maka adakan sayapnya, bando perinya hingga tongkatnya kalo bisa miliki cahaya/senter yang juga mendukung. Jika berperan sebagai gembel, maka bertotalitaslah dengan busananya yang kusam, robek dan bermake-up dekil. Intinya, harus bener-bener totalitas ya jangan nanggung-nanggung. Siapkan juga properti ini jauh-jauh hari.
Last step, latihan terus-menerus. Tiap hari, pun seminimalnya kamu harus latihan 5 kali sehari. Di depan cermin juga lebih bagus. Kalo latihan versiku, aku lebih suka merekam seluruh latihan itu dan menontonnya sendiri sambil mengoreksi di part mana yang terlihat ga bagus dan mesti kuperbaiki. So, day by day will be better.
Jangan latihan cuma seminggu. Seminimalnya sebulan dan setiap hari. Mesti kamu lelah karena sambil di karantina, but please force yourself. Untuk sesi istirahatnya kamu bisa ambil 2 hari sebelum talent perform. Di dua hari terakhir kamu harus fix istirahat yang cukup dan pastikan stamina dan daya konsentasi kamu terjaga.
Comments
Post a Comment