SAMPAH MANIS
(Se-fruit puisi pembukaan)
Manisan yang tertimbun di tumpukan sampah
ia akan tetap disebut ‘manisan’
meskipun ia sudah tidak manis
namanya tidak akan pernah berubah
sampai kapan pun
aku adalah anak dari keluarga yang patah rumah
aku akan tetap disebut ‘anak’
tidak akan pernah berubah
sampai kapanpun
Sampah manis sedang
diolah oleh dua insan dengan cetakan yang berbeda. Membayangkannya saja sudah
mampu membuat insan iba. Ia memang terlihat Anggun, Senyumannya memancarkan
kesedihan yang sengaja ditutupi, pola pikirnya Realistis, dan ia suka
berImajinasi. Takjub dengan bulu-bulu alisnya yang sudah tersusun Rapi sejak ia
hadir. Ia sama sekali tidak malu memancarkan aura Indah bagi mahluk mungil
sepertinya. Seketika membuat mahluk manapun yang melihat dipaksa oleh semesta
untuk mengakui bahwa ia adalah kepingan api yang paling membara. Matanya
berbicara bahwa ia lahir seolah dengan bisikan baik untuk menjadi Asri bagi
semua insan. Namun, hidup tidak melulu baik dalam hal memanjakan sosok mungil
itu. Ia dilatih untuk menjadi sampah bagi semua orang, dihina, dicaci, dimaki
hingga diinjaki. “Semua ini karena Tuhan yang tidak pernah baik padaku”
teriakku waktu itu. Aku memang terlahir sebagai kepingan api yang membara.
Tapi, aku tidak pernah diajarkan bahwa api yang paling membara sekali pun tetap
akan redup pada waktunya.
Ada sebuah ayat yang paling membekas di hati mungilku
{وَمَنْ
يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا
يَحْتَسِبُ}
Barang
siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan
keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.
(Ath-Thalaq:
2-3)
Teman-teman
sosok Asriani Zuriah Harahap yang kalian lihat hari ini adalah perjuangan Asri
10 tahun belakangan melawan kerasnya dunia. Teman-teman aku menulis cerita
ini tidak untuk memamerkan diriku apalagi ingin mendapat PUJIAN dari kalian
TIDAK. Aku pun tahu beberapa dari kalian justru bergerak setelah mendengar cerita
heroku. Lantas aku berencana membuat gerakan 'bergerak' versi massive via
ini.
As
you know aku anak broken home, engga mudah untuk berdikari di usia 6
tahunku. Aku ini perempuan, tentu aku butuh sentuhan kasih sayang versi
complete. Jika di usia segitu kalian sudah mendapat banyak pengalaman bermain
dari orangtua, justru aku sibuk untuk bertahan hidup. Dulu, aku hanya punya 1
foto 3x4 ibuku, yang selalu kubawa kemana-mana agar aku tidak lupa jika aku
melihatnya ditengah jalan. Aku ini pelupa dari kecil. Aku sempat berkali-kali
mengalami kecelakaan, benturan di tubuh mungil hingga kepala. Alhamdulillah,
Allah baik sekali tetap mengizinkan aku HIDUP dikala aku ingin TIADA.
Aku
pernah marah padaNya lantas ia tidak pernah mengizinkan aku pergi berkali-kali.
Aku sudah mencoba menghanyutkan-diri, menjatuhkan-diri hingga melarikan-diri.
Tapi, tetap saja aku selalu kembali ditangan Ayah. Ayah pernah bertanya
'Kenapa?'. Well, aku cuma bisa diam naikin kepala terus meluk ayah dan yang aku
rasain adalah air mata ayah bercucuran dirambut kasarku. Ada kata-kata ayah
yang membuatku berhenti memusnahkan diri 'Jika Ayah pun punya 10 anak seperti
As, wajahnya sama, kecilnya sama, senyumnya sama dan punya gigi kelinci sebesar
ini, ayah masih tidak akan rela melepaskannya. Ayah kan belajar menuntun ia
menerima dirinya.’
Seketika
aku sadar bahwa yang harus kulakukan bukanlan menghilangkan diri, melainkan
menerima diri. Usia 6 - 12 tahun adalah fase yang paling berat dalam hidupku.
Tapi, berkat aku mulai menerima diri, melihat sekeliling memang agak lebih
ringan menjalankan hari-hari yang mulanya amat menyeramkan. Aku kian sadar aku
punya ayah yang sangat perhatian, mestipun mama sesekali waktu itu. Karenanya,
aku terus termotivasi melaporkan kegembiraanku, keberhasilan-keberhasilan
kecilku pada mama agar dia kian bangga dan merindu.
Masa
kanak-kanakku kian berwarna. Aku punya banyak teman dekat yang hampir setiap
hari sibuk menawarkan kebahagian padaku. Kak Wulan, Kak Yuli, Monik, Kak Desti,
Kak Wiwin, Kak Tia, Fira, Dedek dan lainnya. Mereka adalah warna-warna cerah
dalam hidupku. Mereka yang buat aku jadi Sang Pemberani. Berani mandi sungai
hehe, berani lompat dari titi ke sungai haha, bahkan balapan hingga manjat
pohon manggis. Kesibukanku dalam bermain adalah obat patah rumahku.
Usia
14 - 18 tahun adalah masa aku harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Setelah
fase menerima diri, aku justru dihantam fase kehilangan kemudahan menjalankan
hidup sementara ini yappp harta. Ayahku tiba-tiba gulung tikar dengan usaha
rental mobilnya. Membuatku harus sekolah + bekerja. *Bersambung ke cerita #Day6
okee ;)
.png)
Comments
Post a Comment