Skip to main content

Day 5 #30DayWritingChallenge

How could I deal with a broken home?

SAMPAH MANIS

(Se-fruit puisi pembukaan)

 

Manisan yang tertimbun di tumpukan sampah

ia akan tetap disebut ‘manisan’

meskipun ia sudah tidak manis

namanya tidak akan pernah berubah

sampai kapan pun

 

aku adalah anak dari keluarga yang patah rumah

aku akan tetap disebut ‘anak’

tidak akan pernah berubah

sampai kapanpun

 

Sampah manis sedang diolah oleh dua insan dengan cetakan yang berbeda. Membayangkannya saja sudah mampu membuat insan iba. Ia memang terlihat Anggun, Senyumannya memancarkan kesedihan yang sengaja ditutupi, pola pikirnya Realistis, dan ia suka berImajinasi. Takjub dengan bulu-bulu alisnya yang sudah tersusun Rapi sejak ia hadir. Ia sama sekali tidak malu memancarkan aura Indah bagi mahluk mungil sepertinya. Seketika membuat mahluk manapun yang melihat dipaksa oleh semesta
untuk mengakui bahwa ia adalah kepingan api yang paling membara. Matanya berbicara bahwa ia lahir seolah dengan bisikan baik untuk menjadi Asri bagi semua insan. Namun, hidup tidak melulu baik dalam hal memanjakan sosok mungil itu. Ia dilatih untuk menjadi sampah bagi semua orang, dihina, dicaci, dimaki hingga diinjaki. “Semua ini karena Tuhan yang tidak pernah baik padaku” teriakku waktu itu. Aku memang terlahir sebagai kepingan api yang membara. Tapi, aku tidak pernah diajarkan bahwa api yang paling membara sekali pun tetap akan redup pada waktunya.

 

Ada sebuah ayat yang paling membekas di hati mungilku

{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ} 

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. 

(Ath-Thalaq: 2-3)

Teman-teman sosok Asriani Zuriah Harahap yang kalian lihat hari ini adalah perjuangan Asri 10 tahun belakangan melawan kerasnya dunia. Teman-teman aku menulis cerita ini tidak untuk memamerkan diriku apalagi ingin mendapat PUJIAN dari kalian TIDAK. Aku pun tahu beberapa dari kalian justru bergerak setelah mendengar cerita heroku. Lantas aku berencana membuat gerakan 'bergerak' versi massive via ini. 

As you know aku anak broken home, engga mudah untuk berdikari di usia 6 tahunku. Aku ini perempuan, tentu aku butuh sentuhan kasih sayang versi complete. Jika di usia segitu kalian sudah mendapat banyak pengalaman bermain dari orangtua, justru aku sibuk untuk bertahan hidup. Dulu, aku hanya punya 1 foto 3x4 ibuku, yang selalu kubawa kemana-mana agar aku tidak lupa jika aku melihatnya ditengah jalan. Aku ini pelupa dari kecil. Aku sempat berkali-kali mengalami kecelakaan, benturan di tubuh mungil hingga kepala. Alhamdulillah, Allah baik sekali tetap mengizinkan aku HIDUP dikala aku ingin TIADA. 

Aku pernah marah padaNya lantas ia tidak pernah mengizinkan aku pergi berkali-kali. Aku sudah mencoba menghanyutkan-diri, menjatuhkan-diri hingga melarikan-diri. Tapi, tetap saja aku selalu kembali ditangan Ayah. Ayah pernah bertanya 'Kenapa?'. Well, aku cuma bisa diam naikin kepala terus meluk ayah dan yang aku rasain adalah air mata ayah bercucuran dirambut kasarku. Ada kata-kata ayah yang membuatku berhenti memusnahkan diri 'Jika Ayah pun punya 10 anak seperti As, wajahnya sama, kecilnya sama, senyumnya sama dan punya gigi kelinci sebesar ini, ayah masih tidak akan rela melepaskannya. Ayah kan belajar menuntun ia menerima dirinya.’ 

Seketika aku sadar bahwa yang harus kulakukan bukanlan menghilangkan diri, melainkan menerima diri. Usia 6 - 12 tahun adalah fase yang paling berat dalam hidupku. Tapi, berkat aku mulai menerima diri, melihat sekeliling memang agak lebih ringan menjalankan hari-hari yang mulanya amat menyeramkan. Aku kian sadar aku punya ayah yang sangat perhatian, mestipun mama sesekali waktu itu. Karenanya, aku terus termotivasi melaporkan kegembiraanku, keberhasilan-keberhasilan kecilku pada mama agar dia kian bangga dan merindu. 

Masa kanak-kanakku kian berwarna. Aku punya banyak teman dekat yang hampir setiap hari sibuk menawarkan kebahagian padaku. Kak Wulan, Kak Yuli, Monik, Kak Desti, Kak Wiwin, Kak Tia, Fira, Dedek dan lainnya. Mereka adalah warna-warna cerah dalam hidupku. Mereka yang buat aku jadi Sang Pemberani. Berani mandi sungai hehe, berani lompat dari titi ke sungai haha, bahkan balapan hingga manjat pohon manggis. Kesibukanku dalam bermain adalah obat patah rumahku.

Usia 14 - 18 tahun adalah masa aku harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Setelah fase menerima diri, aku justru dihantam fase kehilangan kemudahan menjalankan hidup sementara ini yappp harta. Ayahku tiba-tiba gulung tikar dengan usaha rental mobilnya. Membuatku harus sekolah + bekerja. *Bersambung ke cerita #Day6 okee ;)

 

Comments

Popular posts from this blog

Day 19 #30DayWritingChallenge

Tips vocation goes to Malaysia Ada 2 tips vocation dari aku buat teman-teman sekalian. Please, pilih sesuai dengan kepribadian teman-teman ya. Pertama, group vocation yaitu teman-teman ikut program liburan ke luar negeri bareng delegasi-delegasi lainnya. Faedahnya, bagi teman-teman yang perdana ke LN itu rencananya jelas, terarah dan aman pastinya. Jadi, temen-temen cukup ikuti aja alurnya bareng sie tour guide. Ada 3 rekomendasi program dari aku berdasarkan pengalaman pribadi. Pertama, bisa pilih program Asia Youth International Model United Nations yaitu program simulasi sidang PBB. Kedua, program study tour *jelasnya baca tulisanku di #Day8. Terakhir, bisa ikut travel agent tujuan LN. Searching aja di instagram banyak kok. Kalo di awal, aku tuh milih program AYIMUN selama 3 harian stayed di Putrajaya. Kemudian aku extended ke Penang secara mandiri agar lebih menchallenge diri. Pastiin kamu tahu mau kemana dan akan bertemu siapa ya. Waktu itu, kebetulan aku punya teman masa kecil dar...

Day 26 #30DayWritingChallenge

How am I able to handle my stress? As a Muslim all I  have to do is pray, a minute, j ust take my time, t he clock is ticking, so pray. Itu pertama kali yang aku lakuin. Then, aku nyanyi sekuat-kuatnya. Even my voice is worse, IDK. Aku gemar sekali nyanyi sekuat-kuatnya tanpa memedulikan keindahan suara. Setelah puas dan lelah bernyanyi aku akan tidur tanpa sadar dan stressku menghilang. Sesederhana itu memang. Tapi sebelum menemukan cara ini, tentu aku mencoba banyak hal. Maka, kalian pun harus begitu. Cobalah banyak hal yang masih terkesan positif yang bisa membantumu keluar dari nuansa stress. Sebenarnya, stress itu ada celahnya kok. Ada berbagai pintu menuju jalan keluar. Kita hanya perlu menemukannya. Jika aku bisa, begitu pun kamu. Lantas, ketika sudah keluar apakah penyebab dari stress akan langsung punah? Memang sih belum tentu, tapi setidaknya perasaan kita jadi jauh lebih baik di kala hendak bertindak menyelesaikannya.  Ini beberapa playtlist lagu yang sering kubawa ...

Day 25 #30DayWritingChallenge

So, do I have a K-Pop bias? Yes! Aku juga punya crush yang landed di dunia K-Pop. Berhubung aku introvert yang jarang keluar rumah, salah satu hiburanku di saat bosan adalah watching my favor K-Pop which is Jungkok (BTS Member). Aku memang tidak terlalu mengenal Jungkok secara pribadi, ya iyalah ga mungkin juga ya! Lebih tepatnya aku tidak type of fans yang mencari seluruh info tentang idolnya. Seperti kapan dia lahir, apa kesukaannya, masa lalunya dan lainnya. Di sini aku pure mengagumi karya-karya dan beragaman talentanya Jungkok.  Terserah deh mau dibilang bias atau bukan, intinya aku juga sesekali ngelihat idol Jungkok. Kenapa? Apa karena tampangnya yang ganteng? Terus, seolah aku berharap punya future husband seperti itu? Sorry to say pemikiran seperti ini kumohon tolong dicut. As I said, aku kagum dengan karya-karyanya dan beragam talentanya. Pertama, Jungkok ini member BTS yang paling muda tetapi paling bertalenta menurutku. Dia bisa hampir semua hal. Nyanyi bisa, melukis bi...