Skip to main content

Day 6 #30DayWritingChallenge

Why being discipline is totally needed?

Aku adalah anak patah rumah yang terlahir dari cetakan yang paling berbeda dengan pola pikir negativity bias agar selalu realistis menjalani apapun itu, termaksud dalam ambisiku meraih mimpi. Aku sadar bahwa aku hanya seorang anak tukang parkir yang tidak akan mampu dikuliahkan. Dengan negativity bias-ku, aku sudah menerima lebih dulu skenario-skenario terburuk yang akan terjadi padaku di masa depan. Aku telah menerima bahwa aku tidak akan menjadi wanita terdidik dengan label sarjana, tidak akan pernah bisa keluar negeri berkelana dan membuka jendela duniaku yang fana. Aku hanya akan hidup, tumbuh membabi buta dalam sebuah gubuk mungil tetapi tidak imut sedikitpun.

Aku menghabiskan segala perkara buruk yang mungkin saja terjadi di masa depan hingga aku berdamai dengan itu semua. Maka dengan ringan hati, aku mulai berani memikirkan alternatif yang akan menjadi skenario terbaikku di masa depan. Dari sudut-sudut kegagalan, aku mencari jalan pintas. Tidak untuk kabur, justru aku berniat melompatinya tanpa harus menginjakinya.

Saat SMA aku membantu ayah mengumpulkan rupiah di Warung Nasi Uduk. Warung ini kubangun dari nol bersama ayah. Selepas sekolah aku langsung ke warung untuk membukanya hingga menutupnya kembali. Jujur aku sangat lelah. Setiap hari bekerja sampai larut malam. Sesampainya di rumah, aku pun langsung mencuci baju, belajar hingga tertidur dan terbangun kembali dan seterusnya begitu. 

Ditambah lagi dengan cibiran teman-teman karena aku selalu terlihat pulang malam, tidak bersosialita di sekolah dan aku lebih memilih tidur di kelas daripada bermain. Mesti sudah bekerja sekeras itu aku masih butuh uang lebih untuk biaya SPP.

Aku memutuskan bilang ke ayah bahwa aku akan kerja di pasar malam. Tempat yang notabennya ramai dan banyak pria-pria berisik yang selalu bilang ‘cewe, senyum dikit dong.’ Semua itu kubenci, tapi aku rela jika aku bisa punya uang untuk bayar SPP. 

Ketika pengumuman kelulusan SNMPTN, aku sujud syukur karena lulus di USU. Tetapi, ayah tidak setuju aku lanjut kuliah dan menyuruhku langsung menikah saja. Tentu aku menolak, aku justru berjanji akan kembali dengan gelarku sebagai sarjana berprestasi dengan beasiswa dan mampu keluar negeri berkelana.

Aku pun bekerja lagi dan jauh lebih sibuk. Sadis adalah versi terbaik diriku. Sadis yaitu sabar dan disiplin bersama diri. Aku berusaha untuk sabar akan selalu menguatkan diri sendiri dan disiplin pada setiap hal yang aku jalani. 

Saat bekerja, guruku diam-diam memotretku dan mengunggahnya di facebook dengan takarir ‘Siswa berprestasi di sekolah yang giat bekerja sepulang sekolah demi bisa kuliah’. Karena postingan beliau, esoknya aku dipanggil kepala sekolah dan diberi kebebasan SPP.

Hari menuju masa pendaftaran ulang ke universitas, aku semakin bergairah. Ambisiku di tempat kerja membuatku ingin cepat-cepat membereskan pekerjaan. Malangnya, aku justru tersiram air panas di kedua kakiku. Aku menjerit tanpa suara. Aku dibawa pulang dan banyak warga mendatangi dan membantu merawatku. 

Mesti kakiku dipenuhi dengan gelembung-gelembung imut yang menjijikkan bagi orang lain, aku tetap memutuskan pergi ke universitas. Setiap langkah kakiku menuju universitas, rasanya seperti sedang berjalan di atas kaktus di padang pasir.

Setelah mendaftar ulang, aku resmi jadi mahasiswa USU. Lalu bagaimana? Aku menangis dalam diam dan lagi-lagi berdiskusi pada Allah “Jika aku kuliah sambil kerja, bisa saja bukan hanya kakiku yang terkena air panas, tapi juga wajahku, tanganku dan seluruh tubuhku. Tapi Ya Allah... jika Engkau izinkan aku dapat beasiswa, maka aku bisa fokus belajar dan berjanji akan menjadi mahasiswa berprestasi. Tolong pertimbangkan...” 

Ketika aku menaikkan kepalaku, Allah langsung menjawab dengan baliho beasiswa Dompet Dhuafa Pendidikan. Aku pun mendaftar dan alhamdulillah aku lulus.

Comments

Popular posts from this blog

Day 19 #30DayWritingChallenge

Tips vocation goes to Malaysia Ada 2 tips vocation dari aku buat teman-teman sekalian. Please, pilih sesuai dengan kepribadian teman-teman ya. Pertama, group vocation yaitu teman-teman ikut program liburan ke luar negeri bareng delegasi-delegasi lainnya. Faedahnya, bagi teman-teman yang perdana ke LN itu rencananya jelas, terarah dan aman pastinya. Jadi, temen-temen cukup ikuti aja alurnya bareng sie tour guide. Ada 3 rekomendasi program dari aku berdasarkan pengalaman pribadi. Pertama, bisa pilih program Asia Youth International Model United Nations yaitu program simulasi sidang PBB. Kedua, program study tour *jelasnya baca tulisanku di #Day8. Terakhir, bisa ikut travel agent tujuan LN. Searching aja di instagram banyak kok. Kalo di awal, aku tuh milih program AYIMUN selama 3 harian stayed di Putrajaya. Kemudian aku extended ke Penang secara mandiri agar lebih menchallenge diri. Pastiin kamu tahu mau kemana dan akan bertemu siapa ya. Waktu itu, kebetulan aku punya teman masa kecil dar...

Day 26 #30DayWritingChallenge

How am I able to handle my stress? As a Muslim all I  have to do is pray, a minute, j ust take my time, t he clock is ticking, so pray. Itu pertama kali yang aku lakuin. Then, aku nyanyi sekuat-kuatnya. Even my voice is worse, IDK. Aku gemar sekali nyanyi sekuat-kuatnya tanpa memedulikan keindahan suara. Setelah puas dan lelah bernyanyi aku akan tidur tanpa sadar dan stressku menghilang. Sesederhana itu memang. Tapi sebelum menemukan cara ini, tentu aku mencoba banyak hal. Maka, kalian pun harus begitu. Cobalah banyak hal yang masih terkesan positif yang bisa membantumu keluar dari nuansa stress. Sebenarnya, stress itu ada celahnya kok. Ada berbagai pintu menuju jalan keluar. Kita hanya perlu menemukannya. Jika aku bisa, begitu pun kamu. Lantas, ketika sudah keluar apakah penyebab dari stress akan langsung punah? Memang sih belum tentu, tapi setidaknya perasaan kita jadi jauh lebih baik di kala hendak bertindak menyelesaikannya.  Ini beberapa playtlist lagu yang sering kubawa ...

Day 25 #30DayWritingChallenge

So, do I have a K-Pop bias? Yes! Aku juga punya crush yang landed di dunia K-Pop. Berhubung aku introvert yang jarang keluar rumah, salah satu hiburanku di saat bosan adalah watching my favor K-Pop which is Jungkok (BTS Member). Aku memang tidak terlalu mengenal Jungkok secara pribadi, ya iyalah ga mungkin juga ya! Lebih tepatnya aku tidak type of fans yang mencari seluruh info tentang idolnya. Seperti kapan dia lahir, apa kesukaannya, masa lalunya dan lainnya. Di sini aku pure mengagumi karya-karya dan beragaman talentanya Jungkok.  Terserah deh mau dibilang bias atau bukan, intinya aku juga sesekali ngelihat idol Jungkok. Kenapa? Apa karena tampangnya yang ganteng? Terus, seolah aku berharap punya future husband seperti itu? Sorry to say pemikiran seperti ini kumohon tolong dicut. As I said, aku kagum dengan karya-karyanya dan beragam talentanya. Pertama, Jungkok ini member BTS yang paling muda tetapi paling bertalenta menurutku. Dia bisa hampir semua hal. Nyanyi bisa, melukis bi...