Why being discipline is totally needed?
Aku adalah anak patah rumah yang terlahir dari cetakan yang paling berbeda dengan pola pikir negativity bias agar selalu realistis menjalani apapun itu, termaksud dalam ambisiku meraih mimpi. Aku sadar bahwa aku hanya seorang anak tukang parkir yang tidak akan mampu dikuliahkan. Dengan negativity bias-ku, aku sudah menerima lebih dulu skenario-skenario terburuk yang akan terjadi padaku di masa depan. Aku telah menerima bahwa aku tidak akan menjadi wanita terdidik dengan label sarjana, tidak akan pernah bisa keluar negeri berkelana dan membuka jendela duniaku yang fana. Aku hanya akan hidup, tumbuh membabi buta dalam sebuah gubuk mungil tetapi tidak imut sedikitpun.
Aku menghabiskan segala perkara buruk yang mungkin saja terjadi di masa depan hingga aku berdamai dengan itu semua. Maka dengan ringan hati, aku mulai berani memikirkan alternatif yang akan menjadi skenario terbaikku di masa depan. Dari sudut-sudut kegagalan, aku mencari jalan pintas. Tidak untuk kabur, justru aku berniat melompatinya tanpa harus menginjakinya.
Saat SMA aku membantu ayah mengumpulkan rupiah di Warung Nasi Uduk. Warung ini kubangun dari nol bersama ayah. Selepas sekolah aku langsung ke warung untuk membukanya hingga menutupnya kembali. Jujur aku sangat lelah. Setiap hari bekerja sampai larut malam. Sesampainya di rumah, aku pun langsung mencuci baju, belajar hingga tertidur dan terbangun kembali dan seterusnya begitu.
Ditambah lagi dengan cibiran teman-teman karena aku selalu terlihat pulang malam, tidak bersosialita di sekolah dan aku lebih memilih tidur di kelas daripada bermain. Mesti sudah bekerja sekeras itu aku masih butuh uang lebih untuk biaya SPP.
Aku memutuskan bilang ke ayah bahwa aku akan kerja di pasar malam. Tempat yang notabennya ramai dan banyak pria-pria berisik yang selalu bilang ‘cewe, senyum dikit dong.’ Semua itu kubenci, tapi aku rela jika aku bisa punya uang untuk bayar SPP.
Ketika pengumuman kelulusan SNMPTN, aku sujud syukur karena lulus di USU. Tetapi, ayah tidak setuju aku lanjut kuliah dan menyuruhku langsung menikah saja. Tentu aku menolak, aku justru berjanji akan kembali dengan gelarku sebagai sarjana berprestasi dengan beasiswa dan mampu keluar negeri berkelana.
Aku pun bekerja lagi dan jauh lebih sibuk. Sadis adalah versi terbaik diriku. Sadis yaitu sabar dan disiplin bersama diri. Aku berusaha untuk sabar akan selalu menguatkan diri sendiri dan disiplin pada setiap hal yang aku jalani.
Saat bekerja, guruku diam-diam memotretku dan mengunggahnya di facebook dengan takarir ‘Siswa berprestasi di sekolah yang giat bekerja sepulang sekolah demi bisa kuliah’. Karena postingan beliau, esoknya aku dipanggil kepala sekolah dan diberi kebebasan SPP.
Hari menuju masa pendaftaran ulang ke universitas, aku semakin bergairah. Ambisiku di tempat kerja membuatku ingin cepat-cepat membereskan pekerjaan. Malangnya, aku justru tersiram air panas di kedua kakiku. Aku menjerit tanpa suara. Aku dibawa pulang dan banyak warga mendatangi dan membantu merawatku.
Mesti kakiku dipenuhi dengan gelembung-gelembung imut yang menjijikkan bagi orang lain, aku tetap memutuskan pergi ke universitas. Setiap langkah kakiku menuju universitas, rasanya seperti sedang berjalan di atas kaktus di padang pasir.
Setelah mendaftar ulang, aku resmi jadi mahasiswa USU. Lalu bagaimana? Aku menangis dalam diam dan lagi-lagi berdiskusi pada Allah “Jika aku kuliah sambil kerja, bisa saja bukan hanya kakiku yang terkena air panas, tapi juga wajahku, tanganku dan seluruh tubuhku. Tapi Ya Allah... jika Engkau izinkan aku dapat beasiswa, maka aku bisa fokus belajar dan berjanji akan menjadi mahasiswa berprestasi. Tolong pertimbangkan...”
Ketika aku menaikkan kepalaku, Allah langsung menjawab dengan baliho beasiswa Dompet Dhuafa Pendidikan. Aku pun mendaftar dan alhamdulillah aku lulus.
.png)
Comments
Post a Comment