Skip to main content

Day 27 #30DayWritingChallenge

 A Book That Changed My Mindset


Bagiku buku bukanlah sekadar jendela dunia. Terlebih, buku adalah dimensi waktu yang sewaktu-waktu membuatku lihai dalam berlayar. Berikut 2 top buku versiku yang mampu mengubah mindsetku, nyaris totalitas.


Buku pertama adalah The Subtle Art of Not Giving A F*ck. Dari judul dan tagline-nya saja, kita tentu bisa menebak bahwa buku dengan judul asli The Subtle Art of Not Giving A F*ck ini berisikan hal-hal yang perlu pembaca tahu agar bisa menjalani hidup yang bahagia. Situs psychologytoday.com mencoba meringkas hal-hal penting yang bisa diambil dari buku self improvement ini. Tentunya, dari hal-hal ini juga, kamu akan lebih paham tentang konsep "bodo amat" yang dimaksud oleh sang penulis. Berikut lima hal penting yang bisa kamu pelajari dari buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat.

5 Hal yang Bisa Kamu Pelajari dari Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

1. Kita Berhak untuk Bahagia

Bahagia di sini tentunya secara lahir batin. Seseorang bisa saja terlihat punya gaya hidup yang glamor, namun dalam hatinya terasa hampa. Seperti itu juga yang dialami Manson. Hingga akhirnya dia mencari makna hidup yang baik-baik saja. Baginya, hidup yang baik dan bahagia bisa dirasakan jika seseorang bisa bodo amat pada hal-hal yang memang sepantasnya diabaikan. Kini tinggal kamu yang memilih, ingin bahagia sepenuhnya atau tidak. Karena mungkin saja kebahagiaan kamu terasa tidak lengkap karena terlalu fokus pada hal-hal yang sebenarnya tidak penting bagi hidup.

2. Terlalu Fokus pada Hal-hal yang Seharusnya Bisa Diabaikan

"Saat kita terlalu peduli pada hal-hal ini, kita menghabiskan banyak waktu untuk lari dari masalah kita daripada berdamai dengan masalah itu sendiri," ujar Manson.

Hal-hal yang dimaksud Manson itu berjumlah delapan poin, yaitu membuat orang kagum, selalu benar, menjadi sukses, menyenangkan serta sopan, senang, selalu merasa baik-baik saja, menjadi sempurna, dan semua aman juga pasti. Menurut Manson, kunci hidup tenang tak perlu memikirkan semua poin-poin tersebut. Fokus pada hal yang benar-benar kalian pedulikan. Karena kita tidak mungkin baik-baik saja atau bahagia selalu sepanjang waktu.

3. Cari Tahu Apa yang Sebenarnya Layak Dipedulikan dan Diinginkan

Benarkah kamu memaknai sesuatu dengan segenap hati? Para orangtua selalu mengatakan anak mereka adalah segalanya. Tapi tak jarang juga, ibu-ibu menomorduakan menjemput anak sekolah, demi diskon brand kesayangan di mall. Apa pilihan yang kamu buat? Apa yang perlu kamu abaikan, yang seharusnya tidak kamu lakukan? Dalam bukunya, Manson akan mengajakmu agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kamu selalu memilih apa yang lebih berharga, dari waktu ke waktu. Menurut Manson, begitulah perubahan terjadi.  Perlahan-lahan, dari waktu ke waktu, dengan setiap pilihan yang kamu buat akan berubah sesuai prioritas.

4. Fokus pada Hal yang Lebih Penting

Misalkan saja, sebagai orangtua kamu pada akhirnya akan menyadari tentang diskon yang seharusnya bisa diabaikan. Langkah selanjutnya adalah membentuk kesadaran dengan pertanyaan "seandainya". "Seandainya saya tidak peduli dengan diskon di mall, apa yang akan terjadi selanjutnya?". Buat beberapa kalimat "seandainya" yang lain, yang masih berhubungan dengan hidupmu, dan bayangkan kira-kira apa yang akan terjadi dengan hidupmu.

5. Semua akan Baik-Baik Saja dengan Bersikap Bodo Amat

Pada akhirnya, kalian akan memahami bahwa semua yang tadinya penting itu ternyata tidak begitu berpengaruh pada hidup kalian. Pelan-pelan akan muncul hal-hal di luar kebiasaan, yang bisa membuat kalian lebih hidup, yang selaras dengan nilai-nilai yang membuat hidup lebih tenang. Nilai-nilai itu yang nantinya akan tumbuh bersama kalian dan membuat kalian bisa memaknai kebahagiaan lewat sikap bodo amat.

Buku kedua adalah "Ikigai" oleh Ken Mogi. Beliau adalah seorang brain scientist, penulis, dan penyiar yang berbasis di Tokyo. Dia telah menerbitkan lebih dari 30 makalah tentang kognitif dan neurosains, dan lebih dari 100 buku di Jepang mencakup sains, esai, kritik, dan pengembangan diri. Buku-bukunya telah terjual hampir 1 juta eksemplar di Jepang. Buku berbahasa Inggris karyanya, antara lain Creativity and the Brain.

"Ikigai akan mengingatkan Anda untuk menikmati hal-hal kecil dalam hidup." Ikigai merupakan istilah jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Kata itu secara harfiah meliputi "iki" (untuk hidup) dan "gai" (alasan). Ikigai bercokol dalam ranah hal-hal kecil, udara pagi, secangkir kopi, sinar matahari, pemijatan daging gurita dan pujian presiden Amerika berada pada pijakan yang setara.

Hanya mereka yang dapat mengenali kekayaan seluruh spektrum inilah yang dapat benar-benar menghargai dan menikmatinya. Buku ini berisi tentang filosofi hidup ala jepang yang memberikan motivasi, semangat, gairah, dan tujuan untuk menjalani hidup. Penulis juga menunjukkan keajaiban ikigai melalui kisah-kisah inspiratif.

Comments

Popular posts from this blog

Day 19 #30DayWritingChallenge

Tips vocation goes to Malaysia Ada 2 tips vocation dari aku buat teman-teman sekalian. Please, pilih sesuai dengan kepribadian teman-teman ya. Pertama, group vocation yaitu teman-teman ikut program liburan ke luar negeri bareng delegasi-delegasi lainnya. Faedahnya, bagi teman-teman yang perdana ke LN itu rencananya jelas, terarah dan aman pastinya. Jadi, temen-temen cukup ikuti aja alurnya bareng sie tour guide. Ada 3 rekomendasi program dari aku berdasarkan pengalaman pribadi. Pertama, bisa pilih program Asia Youth International Model United Nations yaitu program simulasi sidang PBB. Kedua, program study tour *jelasnya baca tulisanku di #Day8. Terakhir, bisa ikut travel agent tujuan LN. Searching aja di instagram banyak kok. Kalo di awal, aku tuh milih program AYIMUN selama 3 harian stayed di Putrajaya. Kemudian aku extended ke Penang secara mandiri agar lebih menchallenge diri. Pastiin kamu tahu mau kemana dan akan bertemu siapa ya. Waktu itu, kebetulan aku punya teman masa kecil dar...

Day 26 #30DayWritingChallenge

How am I able to handle my stress? As a Muslim all I  have to do is pray, a minute, j ust take my time, t he clock is ticking, so pray. Itu pertama kali yang aku lakuin. Then, aku nyanyi sekuat-kuatnya. Even my voice is worse, IDK. Aku gemar sekali nyanyi sekuat-kuatnya tanpa memedulikan keindahan suara. Setelah puas dan lelah bernyanyi aku akan tidur tanpa sadar dan stressku menghilang. Sesederhana itu memang. Tapi sebelum menemukan cara ini, tentu aku mencoba banyak hal. Maka, kalian pun harus begitu. Cobalah banyak hal yang masih terkesan positif yang bisa membantumu keluar dari nuansa stress. Sebenarnya, stress itu ada celahnya kok. Ada berbagai pintu menuju jalan keluar. Kita hanya perlu menemukannya. Jika aku bisa, begitu pun kamu. Lantas, ketika sudah keluar apakah penyebab dari stress akan langsung punah? Memang sih belum tentu, tapi setidaknya perasaan kita jadi jauh lebih baik di kala hendak bertindak menyelesaikannya.  Ini beberapa playtlist lagu yang sering kubawa ...

Day 25 #30DayWritingChallenge

So, do I have a K-Pop bias? Yes! Aku juga punya crush yang landed di dunia K-Pop. Berhubung aku introvert yang jarang keluar rumah, salah satu hiburanku di saat bosan adalah watching my favor K-Pop which is Jungkok (BTS Member). Aku memang tidak terlalu mengenal Jungkok secara pribadi, ya iyalah ga mungkin juga ya! Lebih tepatnya aku tidak type of fans yang mencari seluruh info tentang idolnya. Seperti kapan dia lahir, apa kesukaannya, masa lalunya dan lainnya. Di sini aku pure mengagumi karya-karya dan beragaman talentanya Jungkok.  Terserah deh mau dibilang bias atau bukan, intinya aku juga sesekali ngelihat idol Jungkok. Kenapa? Apa karena tampangnya yang ganteng? Terus, seolah aku berharap punya future husband seperti itu? Sorry to say pemikiran seperti ini kumohon tolong dicut. As I said, aku kagum dengan karya-karyanya dan beragam talentanya. Pertama, Jungkok ini member BTS yang paling muda tetapi paling bertalenta menurutku. Dia bisa hampir semua hal. Nyanyi bisa, melukis bi...