Why am I being so serious so?
Pernah dengar ga Motivation2Study? Iya, mereka punya channel youTube yang secara reguler memposting semangat belajar hingga cara bersyukur tuk menjalankan hidup. Bagi teman-teman yang telah memfollowku sejak lama pasti tahu bahwa aku adalah penikmat konten-konten mereka sejak lama. Lalu, apa hubungannya dengan topik kali ini ya As? Perlahan saja, akan aku jelaskan.
Aku pernah merasa giat dan auto tertampar jika ada yang menyarkas dan amat mengena ke ulu hati, bertubi-tubi hingga menjadi sebuah rutinitas. Di kala aku bernadzar harus menjadi lebih baik setiap harinya, mesti hanya satu persen saja. Aku mengambil langkah awal untuk banyak mendengar kemudian menghayatinya dalam meditasi ringan. Salah satu yang acapkali kudengar adalah konten-konten dari Motivation2Study.
Aku menemukan konten ini atas dasar ketidaksengajaan, namun dengan niat perubahan. Konten pertama yang kutonton adalah "Study Hard" yang diunggah pada 29 Apr 2019. Durasi konten ini menurutku cukup panjang yaitu 28 menit namun isinya adalah kombinasi dari potongan-potongan motivasi dari motivator ternama nan amazing. 28 menit, dan bahkan saat ini aku hapal isi utuh 28 menit itu.
Awalnya, aku tidak pernah menganggap serius akan sebuah kesempatan, peluang hingga kepercayaan. Sampai aku mendengar sekali, dua kali, berkali-kali lalu menjadi rutin setiap hari. Statement yang paling membuatku tertampar adalah "If u wanna be anomaly, you've got to act like one. Why you only giving 50%? What's wrong with you? You said your goal was to pass every class. You said your goal was to never again finish last. break it down and add just a little more effort, add just a little more focus, add just a little more time management, add just a little more patience, add just a little more studying, add just a little more listening, add just a little more discipline. To get something you never have, you have to do something you never did".
Seketika, aku sadar bahwa sudah begitu banyak amanah yang kugenggam, mendapat beasiswa, menjadi mahasiswa berprestasi hingga menang dalam kompetisi. Lantas, muncullah sebuah pertanyaan. Apa output nyata dari itu semua?
Aku hanya mengerjakan memang dengan kesenangan, tapi tanpa output yang jelas tanpa perubahan bahkan perkembangan. Membuatku kian sadar, apapun yang aku lakukan haruslah ada outputnya. Tidak hanya untuk diriku, tapi juga banyak orang. Masalahnya selama ini ternyata ada di diriku. maaf kepada diri, aku yang salah. Aku salah karena hanya memberimu 50%, aku yang salah karena menyelesaikannya di akhir, aku yang salah karena tidak menambah usaha, aku yang salah karena tidak lebih fokus, aku yang salah karena tidak lebih tertata dalam waktu, aku yang salah karena tidak lebih bersabar, aku yang salah karena tidak lebih belajar, aku yang salah karena tidak lebih banyak mendengar, dan aku yang salah karena tidak lebih disiplin.
Aku teramat suka melangit lebih dahulu, berangan besar tanpa mengingat dan menambah extra dari prosesnya. Sesungguhnya, aku pun tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa mencapainya. Apa yang kumau itu, jika aku tidak serius berprogress dengan itu semua. Karenanya, aku serius untuk segala hal saat ini. Aku teramat takut gagal dan mengecewakan diri. Aku telah berhasil menyelesaikan mosi pertama bersama diri. Lantas, selanjutnya.... Aku harus lebih serius.
.png)
Comments
Post a Comment